(Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani)
Membaca biografi para penulis pesantren,
laksana menyelami samudra ilmu yang tidak bertepi. Keluasan ilmu mereka,
kesungguhan dalam belajar, pengabdian tanpa pamrih, keikhlasan dalam berdakwah,
hingga produktifitas dalam menulis, membuat setiap tetes tinta yang mereka
goreskan, menaburkan sejuta makna yang tiada terhingga.
Pada abad ke-16 Masehi, orang-orang
pesantren (kiai dan santri) merupakan ikon kemajuan intelektual di Nusantara.
Mereka memiliki peranan yang cukup besar dalam memajukan pembangunan di
wilayahnya masing-masing. Sebagian lagi menduduki jabatan penting di sejumlah
kerajaan Islam.
Perlu
dicatat, pada abad ini telah muncul tradisi penulisan narasi dan syair. Banyak
kitab matan yang berbentuk sya’ir, dibuatkan syarah-nya berbentuk
narasi. Banyak pula kitab narasi yang dibuatkan kitab baru berbentuk syair.
Tradisi ini sebenarnya sudah berkembang sejak awal masuknya Islam ke Nusantara,
dan terus bertahan hingga pertengahan abad ke-20 Masehi.
Pada
akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 inilah kita akan menjumpai seorang penulis
yang paling produktif, yaitu Syeikh Nawawi bin Umar al-Bantani. Beliau menulis
lebih dari 38 kitab. Beliau juga mengajar di Masjidil Haram yang dijuluki
Sayyid Ulama Hijaz. Beliau adalah Mahaguru sejati (the great scholar),
yang telah berjasa meletakkan landasan teologis bagi tradisi keilmuan
pesantren. Murid-muridnya merupakan tokoh-tokoh pendiri pesantren.
Kelahiran dan Pendidikan
Syeikh Nawawi bin Umar al-Bantani
dilahirkan di Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten, pada tahun 1230 H/1813 M,
dengan nama lengkap Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi Al-Jawi
Al-Bantani. Ayahnya seorang tokoh agama dan penghulu Kecamatan Tanara. Syeikh
Nawawi merupakan keturunan ke-12 dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati,
Cirebon) melalui Sunyararas (Tajul ‘Arsy), putra Maulana Hasanuddin (Sultan
Banten I).
Pendidikan
dasarnya diperoleh dari ayahnya sendiri, KH. Umar bin Arabi. Setelah itu beliau
belajar kepada Kiai Sahal, Ulama terkenal di Banten pada masa itu. Usai dari
Banten, Syeikh Nawawi melanjutkan belajarnya kepada Ulama besar Purwakarta,
Kiai Yusuf.
Pada
usia 15 tahun, Syeikh Nawawi berangkat ke Tanah Suci Mekkah bersama dua orang
saudaranya. Tujuannya ialah menunaikan ibadah haji. Namun setelah musim haji
usai, beliau tidak langsung kembali ke tanah air, akan tetapi bertahan untuk
menimba ilmu kepada Ulama-ulama besar, seperti Syeikh Ahmad Khatib Sambas,
Syeikh Abdul Gani Bima, Sayyid Ahmad Dimyati, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, dan
Syeikh Abdul Hamid Daghestani. Di sana Syeikh Nawawi mempelajari ilmu kalam,
bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir, dan ilmu fikih.
Jasa dan Pengaruh
Setelah tiga tahun belajar di Mekkah, Syeikh
Nawawi segera kembali ke tanah air dan mengajar di pesantren asuhan ayahnya.
Kedatangannya mendapat simpati dari masyarakat. Para santri datang membludak
dari berbagai pelosok Banten dan Jawa Barat. Namun, akibat tekanan massif
belanda, Syeikh Nawawi akhirnya kembali ke tanah suci Mekkah sesuai impiannya
untuk bermukim disana. Di Mekkah, beliau tinggal di kawasan Syi’ab Ali.
Syeikh
Nawawi melanjutkan belajar kepada guru-gurunya tersebut di atas. Setelah itu
beliau pindah ke Madinah dan belajar kepada Syeikh Muhammad Khatib al-Hanbali.
Kemudian melanjutkan pelajarannya kepada ulama-ulama besar Mesir dan Syam
(Syiria). Di Mesir, beliau belajar kepada Syeikh Yusuf as-Sumbulawini dan
Syeikh Ahmad Nahrawi.
Setelah
dinilai ilmunya mumpuni, Syeikh Nawawi ditunjuk menjadi Imam Masjidil Haram
menggantikan gurunya, Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kemudian pada tahun 1860
Syeikh Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjidil Haram. Murid-muridnya yang
datang dari belahan dunia.
Di
antara murid-muridnya yang berasal dari Indonesia, adalah Syeikh Ahmad Khatib
al-Minangkabawi, Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari Jombang, KH.
Raden Asnawi Kudus, KH. Asy’ari Bawean, KH. Najihun Tangerang, Tubagus Bakri
Purwakarta, KH. Tubagus Muhammad Asnawi Banten, dan KH. “Ageng” Abdul Karim
Banten. Mereka semua di kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah
air.
Selain
mengajar, Syeikh Nawawi juga aktif menulis yang dimulai pada tahun 1870.
Inisiatif menulis datang dari desakan sebagian koleganya yang memninta untuk
menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya
yang berasal dari Indonesia, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di
daerah asalnya.
Berkat
kealiman dan produktifitas menulisnya, nama Syeikh Nawawi sangat populer di
mana-mana. Karena kemasyhurannya itu, beliau digelari A’yan Ulama al-Qarn
al-Rabi’ ‘Asyr li al-hijrah, kemudian al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah
al-Mudaqqiq, serta Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpi Ulama Hijaz).
Syeikh
Nawawi wafat di Mekkah dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di Ma’la pada tanggal
25 Syawwal 1314 H/1897 M. Makam beliau berada di dekat makam Siti Khadijah,
Ummul Mukminin Istri Nabi Saw.
Karya-Karya
Syeikh
Nawawi menulis dalam hampir setiap disiplin ilmu yang dipelajari di pesantren, semuanya
berbahasa Arab. Beberapa karyanya merupakan syarah (penjelasan) dari
kitab yang terbit sebelumnya. Kitab-kitab karangannya banyak yang diterbitkan
di Mesir. Beliau biasanya mengirimkan naskah aslinya dan setelah itu tidak
memperdulikan hak cipta atau royaltinya.
Kitab-kitab
beliau menjadi rujukan di hampir semua pesantren di Indonesia, termasuk
Malaysia, Filipina, Thailand, Saudi Arabia, Mesir dan Negara-negara Timur
Tengah lainnya. Begitu produktifnya beliau sehingga dijuluki sebagai Imam
Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah Imam Nawawi ad-Damsyiqi, penulis
Syarah Shahih Muslim dan Majmu’ Syarh al-Muhadzab.
Menurut
penelitian, karya-karya Syeikh Nawawi mendominasi kurikulum pesantren-pesantren
di Indonesia sejak abad ke-20. Terdapat sekitar 22 judul kitab karya Syeikh
Nawawi yang hingga kini masih terus dipelajari para santri.
Kitab-kitab
tersebut antara lain:
1.
Qathr
al-Ghaits,
2.
Tijan
ad-Durari,
3.
Nur
ad-Dzalam,
4.
Nasha’ih
al-Ibad,
5.
Maraqi
al-Ubudiyah,
6.
Salalim
al-Fudhala’,
7.
Misbah
al-Zulam,
8.
Qomi’ al-Thugyan,
9.
Nihayat
az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in,
10. Kasyifah as-Saja’,
11. Tsamar
al-Yani’ah,
12. Sullamul al-Munajat,
13. Tausyikh ‘ala Ibn Qasim,
14. Mirqat as-Su’ud at-Tashdiq,
15. Tanqihul Qoul,
16. Mirah labid Fi Tafsir al-Qur’an al-Majid,
17. Madarij al-Su’ud Ila Ikhtisah al-Burud,
18. Syarah al-Jurumiyah,
19. Lubab al-Bayan,
20. Dhariyat al-Yaqin,
21. Syarah al-Asma’ al-Husna
22. Syarah suluk al-Jiddah
Karya-karya beliau
senantiasa abadi di dalam bilik sanubari umat Islam hingga ratusan tahun
lamanya. Berkat karya beliau, kita mengenal Allah SWT, mengenal Nabi Muhammad
SAW, dan mengenal Islam dengan segala
dimensi ajarannya. Tak salah jika dikatakan, “Tinta Para Ulama itu Sebanding
dengan Darah para Syuhada”.
Wallahu A’lam Bisshowab.

0 komentar:
Posting Komentar