Diaspora umat Islam di seluruh dunia membawa berkah tersendiri. Produk halal yang dulu hanya bisa dinikmati di negeri-negeri Muslim, kini bisa ditemui secara masif di negeri-negeri sekuler. Desakan kebutuhan akan produk pangan maupun kosmetika yang halal menjadikan halal kini sudah menjadi tren baru masyarakat dunia. Terbukti, banyak negara yang berupaya keras menyediakan produk halal dan menyelenggarakan pameran produk halal walaupun penduduk muslimnya minoritas.
Jepang
Seperti yang sudah pernah dipaparkan pada artikel sebelumnya tentang Islam di Jepang (baca Menyemai Dakwah di Negeri Sakura), tidak ada hambatan berarti bagi Muslim di Jepang untuk mengamakan ajaran Islam. Begitu pun ketika umat Islam di sana membutuhkan produk halal, pemerintah Jepang meresponnya dengan positif.
Pemerintah Jepang menyadari betul, bahwa meningkatnya jumlah umat Islam yang berkunjung ke Jepang (sebagai turis) atau menetap di negara mereka (sebagai mahasiswa atau pekerja) membuat Jepang harus bisa menjadi tuan rumah yang ramah.
Oleh karena itu, sebuah pameran halal internasional baru-baru ini diselenggarakan di Jepang, dengan mengambil lokasi di Makuhari Messe Convention Centre, Prefektur Chiba, 26-27 November 2014.
Menurut data yang dilansir dari DDHK News, Pameran tersebut digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan makanan halal, memberi informasi mengenai tren pasar terkini terkait turis muslim, serta memungkinkan muslim Jepang memberi masukan terkait apakah Jepang sudah menjadi negara ramah muslim.
Tren produk halal pun tengah melanda kampus-kampus di Jepang. Demi merespon tingginya jumlah mahasiswa Muslim yang berkuliah di Jepang, pihak kampus mulai memikirkan cara menyediakan makanan halal. Kantin di Universitas Osaka, misalnya. Sudah sejak 20 tahun yang lalu universitas terbesar di Osaka ini menambahkan chikin karaage (ayam goreng tepung) halal dan furai shiromizakana (ikan goreng) halal dalam menu di kantin mereka.
Di Universitas Kyoto, sejak tahun 2005, restoran di lingkungan kampus telah menyediakan makanan yang menggunakan daging ayam yang halal. Empat tahun yang lalu di kafetaria yang lain, kebab halal pun mulai dijual. Ternyata makanan ini tidak hanya populer di kalangan mahasiswa muslim, namun juga populer di kalangan mahasiswa lainnya.
Departemen Pendidikan Jepang berupaya dengan sekuat tenaga menarik mahasiswa asing yang difokuskan pada 13 universitas utama yang terpilih melalui proyek G30 atau Project for Establishing Core Universities for Internationalization. Dari 13 universitas tersebut, 11 universitas sudah menyediakan makanan halal.
Di masa mendatang, dengan meningkatnya jumlah mahasiswa asing dan aktifnya upaya pemerintah Jepang untuk menarik mahasiswa asing dari negara-negara Islam, tentunya permintaan akan produk makanan halal pun akan meningkat pula.
Jerman
Jumlah imigran Muslim yang bermukim di Jerman mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dikarenakan tingginya tingkat kelahiran bayi dalam keluarga Muslim. Seiring dengan hal tersebut, maka kebutuhan akan produk-produk halal pun meningkat.
Perkembangan yang positif ini telah mendorong para produsen makanan di Jerman untuk menarik pasar yang potensial tersebut. Tercatat, jumlah orang Muslim di Jerman ada 4 juta jiwa dan akan terus bertambah di masa datang.
Perusahaan-perusahaan Jerman perlahan tapi pasti akhirnya menyadari, bahwa memenuhi kebutuhan konsumsi akan makanan halal adalah cara yang sangat baik untuk menghasilkan uang. Apalagi di jaman krisis ekonomi seperti sekarang ini, menemukan pasar baru menjadi hal yang sangat menggiurkan daripada sebelumnya. Analisis industri memperkirakan bahwa raksasa produk makanan seperti Nestle telah menghasilkan banyak keuntungan lewat poduk-produk halal dibandingkan dengan produk organik. Menurut perkiraan para ahli, bisnis makanan halal di Jerman bisa menghasilkan omset sekitar 5 milliar Euro.
Di daerah pemukiman warga Turki di bagian kota Hamburg yang bernama Sankt Georg, warga Muslim dapat berbelanja tanpa harus mengkhawatirkan masalah halal atau haram. Misalnya daging. Daging yang dijual di daerah ini hanya berasal dari peternakan dan penyembelihan yang dengan ketat mengikuti syari’at Islam.
Prancis
Prancis kena batunya. Meski menjadi negara sekuler yang paling tidak ramah terhadap Muslim, namun pasarnya memihak Muslim. Dinamika pasar halal di Prancis semakin menggeliat. Pertumbuhan ini seiring dengan meningkatnya populasi Muslim di negara asal Menara Eifel itu. Kini, diprediksi jumlah pemeluk Islam di negara yang berbentuk republik tersebut mencapai lima juta jiwa. Pasar halal pun diperkirakan berkembang sekitar 10-15 persen per tahun.
Geliat tersebut semakin mencapai klimaksnya sepanjang bulan Ramadhan. Sejumlah supermarket di negara yang terkenal sangat sekuler itu berlomba-lomba menyediakan produk halal. Seperti yang terjadi di Livrygargan, sebuah kota pinggiran Prancis dengan penduduk multietnis.
Supermarket Cora, misalnya. Supermarket tersebut menawarkan produk halal yang boleh dikonsumsi umat Muslim. Mereka menawarkan produk susu, rempah-rempah, permen, lasagna beku, daging ham, dan lainnya.
Ramadhan merupakan bulan puncak untuk penjualan halal dengan penghasilan sekitar 430 juta dolar Amerika. Pemasok besar dan supermarket saling berebut untuk memenuhi permintaan saat Ramadhan. Mereka menawarkan banyak produk halal dan promosi selama Ramadhan.
Pada saat Ramadhan, merek terkemuka daging halal, Isla Delice, meluncurkan kampanye TV nasional untuk pertama kalinya. Supermarket seperti Cora juga memiliki promosi halal Ramadhan. Saat ini, di Prancis dapat dengan mudah menemukan menu makanan foie gras dalam versi halal. Omzet khusus Ramadhan bisa mencapai 430 juta dolar AS.
Inovasi juga ikut menyokong tren halal di Prancis. Seorang Muslim Prancis berhasil mengembangkan produk baru berupa alat uji halal sehingga memungkinkan pelanggan mendeteksi keberadaan daging babi atau alkohol di makanan yang disajikan kepada mereka di restoran serta makanan kemasan.
Alat yang harganya 6,90 Euro per tes ini telah dikembangkan oleh sepasang mahasiswa bisnis Aljazair-Prancis untuk perusahaan mereka Capital Biotech sebagai sebuah alat yang bisa membuktikan adanya produk makanan yang dilarang oleh Al-Quran.
Dibuat seperti alat tes kehamilan, perangkat ini mencakup strip yang bisa ditempatkan dalam wadah dan beberapa tetes air panas. Munculnya dua strip berarti produk makanan tersebut mengandung daging babi dan tidak dapat dikonsumsi oleh umat Islam. Satu strip, berarti tidak ada daging babi dan memenuhi standar konsumsi Islam.
Produk ini merupakan gagasan dari Chaoui, 25 tahun, dan teman sekelasnya, Jean-François Julien, 27 tahun. Seiring dengan makanan, alat ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi minuman beralkohol.
Inggris
Jumlah Muslim di Inggris meningkat cukup pesat dalam empat tahun terakhir. Setidaknya 5.000 warga Inggris masuk Islam per tahunnya. Hal itu berdampak pada semakin banyaknya toko dan restoran yang menyediakan makanan berlabel halal. Karena itu, industri makanan halal pun kian menggeliat.
Keseriusan publik Inggris merespon kebutuhan akan produk halal patut diacungi jempol. Perusahaan makanan di Birmingham, Inggris berinisiatif membuka Taman Makanan Halal. Taman halal ini dibuka di Jalan Leopold 126, Birmingham, Inggris. Taman ini kemudian disebut Halal Business Park. Adalah perusahaan pengolahan Daging Halal JKY Food Solutions membuka 10 counter bisnis halal di lokasi yang cukup luas tersebut. Saat ini Inggris memiliki tiga perusahaan pengolahan daging halal besar, diantaranya JKY Food Solutions, Asia Halal Meat dan Asia Halal Poultry.
Negara-Negara Sekuler Dilanda Tren Halal
Nama Anda
New Johny WussUpdated: 19.57.00
0 komentar:
Posting Komentar