Kewajiban Mengagungkan Rasulullah SAW dan Tradisi Generasi Sahabat

Allah swt. telah mengagungkan Rasululloh Sholallahu alaihi wasallam , maka kita pun mesti mengagungkan beliau pula. Bagaimana mungkin, Tuhan kita mengagungkan beliau, sementara kita berlaku sebaliknya.  Allah swt. berfirman,
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا ، لِتُؤْمِنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkannya, dan mengagungkannya. Dan supaya kamu sekalian bertasbihkepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S. al-Fath: 8-9).

Pada ayat yang lain, Allah swt. menegaskan,

فَالَّذِيْنَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِى أُنْزِلَ مَعَهُ أُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. al-A’raaf: 157)

Imam Baihaqi rahimahullah ta’ala menyatakan, “Allah swt. menerangkan bahwa hak Rasulullah saw. di kalangan ummatnya adalah hendaknya beliau disokong, dikuatkan, diagungkan, dan dimuliakan dengan penuh penghormatan.” (Syuabul Iman, ash-Shagharji, jilid 1 hal. 443).

Dan kita dapat melihat gambaran bagaimana generasi sahabat dahulu mengagungkan beliau, dalam rangka bersegera dan bergegas menyambut seruan Allah swt.
Usamah bin Syarik ra. berkata, “Aku datang kepada Nabi saw. dan para sahabat di sekeliling beliau seakan-akan ada burung hinggap di kepala mereka.” Hal ini karena mereka duduk dengan sangat tenang, khusyu’, dan penuh perhatian di hadapan beliau.

Amr bin Ash ra. berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah saw. Tidak ada yang lebih agung dalam pandangan mataku daripada beliau. Aku tidak sanggup memenuhi pandangan mataku menatapnya demi mengagungkan beliau. Kalau aku diminta untuk mensifatinya, aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah memenuhi pandangan mataku dalam menatapnya.”

Urwah bin Mas’ud saat menjadi delegasi Qurasiy pada perjanjian Hudaibiyah, sempat menyaksikan keadaan para sahabat. Demi Allah, Rasulullah saw. tidak meludah kecuali ludahnya jatuh di tangan salah satu dari mereka, lalu ludah itu diusapkannya pada muka dan kulitnya. Jika beliau memerintah, mereka bergegas melaksanakannya. Jika beliau berwudlu, mereka berebutan mengambil bekas air wudlu beliau, dan hampir saja mereka berkelahi karenanya. Tidak jatuh sehelai rambut beliau, kecuali mereka memperebutkannya. Jika beliau bicara, mereka sama merendahkan suara. Mereka tidak menatap tajam beliau, dalam rangka mengagungkan beliau. Saat kembali kepada teman-temannya dari Quraisy, dia berujar, “Wahai orang-orang Quraisy, aku pernah datang kepada raja Kisra, raja Kaisar, dan raja Najasyi di istana-istana mereka, dan demi Allah, aku tidak melihat seorang raja di kalangan kaumnya seperti Muhammad di kalangan para sahabatnya. Aku tidak melihat seorang raja diagungkan sebagaimana Muhammad diagungkan para sahabatnya. Aku telah melihat satu kaum yang selamanya tidak akan memerosokkan (pemimpinnya) pada kehinaan.”

Generasi sahabat sama mengagungkan Rasulullah saw. lebih daripada mereka mengagungkan harta benda mereka, anak-anak mereka, orangtua mereka, dan apa saja yang bisa diagungkan. Sahabat Abu Sufyan ra., ketika masih kafir, pernah berkata, “Aku tidak melihat di kalangan manusia seseorang yang mencintai orang lain seperti kecintaan para sahabat Muhammad kepada Muhammad.” (Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, jilid 2 hal. 38 dan Syuabul Iman, ash-Shagharji, jilid 1 hal. 444).

Mengagungkan Rasulullah saw. Sepeninggal Beliau

Sikap dan pola mengagungkan Rasulullah saw. tentu berlaku kapan saja. Ia tidak terbatas semasa hidup beliau, namun juga pasca wafat beliau. Mengagungkan Rasulullah saw. bukan hanya menjadi hak generasi sahabat, namun menjadi hak kita semua, sebagai ummatnya dan sebagai kaum muslimin.

Qadhi Iyadh rahimahullah ta’ala menuturkan, “Ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan Nabi saw. sepeninggal beliau, berikut mengagungkan dan menghormatinya, adalah suatu hal yang lazim, sebagaimana halnya di masa hidup beliau.” Abu Ibrahim at-Tujibi berkata, “Setiap orang mu’min, manakala menyebut beliau atau nama beliau disebut di sisinya, berkewajiban untuk khudlu’, khusyu’, mengagungkan, dan tenang. Dia hendaknya mengagungkan sebagaimana dia mengagungkan seandainya beliau ada di depannya, dan hendaknya beradab sebagaimana diajarkan oleh Allah swt.” Selanjutnya Qadhi Iyadh berkata, “Hal ini adalah tradisi hidup generasi Salafus Shalih dan pemimpin-pemimpin kita terdahulu.” (Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, jilid 2 hal. 40).

Amirul Mu’minin, Abu Ja’far al-Manshur pernah bertukar pikiran dengan Imam Malik bin Anas ra. di Masjid Rasulullah saw. Imam Malik lalu berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, jangan engkau tinggikan suaramu di masjid ini. Sesungguhnya Allah swt. telah mengajarkan adab pada kaum dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.” (Q.S. al-Hujurat: 2) Dan telah memuji satu kaum dengan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. al-Hujurat: 3) Dan telah mencela satu kaum dengan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Q.S. al-Hujurat: 4). Sesungguhnya kemuliaan beliau setelah wafat tak ubahnya kemuliaan beliau saat masih hidup.” Demikian nasehat Imam Malik. Abu Ja’far al-Manshur, lalu berubah tenang.

Amirul Mu’minin, Abu Ja’far al-Manshur bertanya, “Wahai Abu Abdillah (panggilan Imam Malik), apakah aku menghadap qiblat dan berdoa ataukah aku menghadap kepada Rasulullah?!” Imam Malik bin Anas ra. menjawab, “Ada apa engkau palingkan muka engkau dari beliau, sedang beliau adalah wasilah engkau dan wasilah nenek moyang engkau, Adam as, kepada Allah ta’ala pada hari kiamat?! Justeru menghadaplah kepada beliau dan memohonlah pertolongan dengan (perantara) beliau!.” Allah swt. lalu memberikan pertolongan kepadanya. (Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, jilid 2 hal. 41).

Imam Malik bin Anas ra. jika hendak meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw., dia mandi dan berwudlu terlebih dahulu, memakai minyak wangi, memakai baju kebesarannya yang baru, memakai imamah (surban) dan kopyah di atasnya, serta berselendang. Dia lalu keluar dan duduk secara khusyu’ di atas kursi khusus. Majelisnya didupai dengan wewangian, sehingga selesai meriwayatkan hadits. Ditanyakan kepadanya mengenai hal ini. Ulama besar yang digelari “Imam Darul Hijrah” ini menjawab, “Sesungguhnya aku ingin mengagungkan hadits Rasulullah saw. Dan aku tidak meriwayatkannya kecuali dalam keadaan suci.” (Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, jilid 2 hal. 45).

Konon, pendiri madzhab Malikiyah ini manakala berjalan di atas kota Madinah, dia melepas sandalnya.


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 19.45.00

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
CB