Mengatasi Sifat Kikir

Oleh : Habib Miqdad Baharun

Harta adalah salah satu fitnah terbesar dalam kehidupan manusia karena harta adalah kebutuhan tak terelakkan semua ummat manusia selama berada di atas dunia. Jika harta menumpuk di tangan seseorang maka bisa saja harta membuatnya terlena untuk melaksanakan tugas yang  sesungguhnya dari seorang  manusia yaitu beribadah dan  mengabdi  kepada Allah Subhanahu wa ta'ala .  Keserakahan akan harta membuat seseorang akan menyerahkan hidup matinya hanya untuk mengejar harta demi memuaskan syahwat dunianya. Namun sebaliknya jika tidak memiliki harta seseorang akan jatuh miskin dan kemiskinan berpeluang besar menyeretnya dalam kekufuran karena ketidaksabaran meng­ hadapi kemiskinan bisa saja membuat ia menu­ kar aqidahnya tatkala ada tawaran berpindah agama dengan iming-iming materi melimpah. Demikianlah dilema harta yang memang memiliki dua sisi; negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah sebagaimana dipaparkan di atas, sedang sisi positifnya adalah harta bisa menjadi sumber kekuatan untuk menopang program-program keagamaan dan merealisasikan aktivitas­ aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah seperti zakat, haji, membantu fakir miskin dan anak yatim dan aktivitas-aktivitas lainnya.

Berangkat dari paparan di atas, memiliki harta sesungguhnya adalah nikmat Allah yang harus disyukuri  dengan  memanfaat-kannya  sesuai ketentuan    Allah    dan   tidak    kikir    untuk mengeluarkan kewajiban yang ditetapkan Allah dalam harta benda yang dimilikinya. Oleh karena itu Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat AI Khathib yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib, "Sesungguhnya Allah membenci orang  yang  kikir  saat  hidup  dan  menjadi dermawan menjelang mati." Maksud kikir dalam hadits ini adalah kikir mengeluarkan  zakat atau memilki arti lebih umum yang mencakup  zakat dan sedekah  sunnah.  Sedang  mengapa Alloh membenci orang yang berubah menjadi dermawan   menjelang mati ? Hal ini karena kedermawanan berangkat dari kondisi yang memaksanya menjadi pemurah setelah ia mengetahui akan meninggalkan  dunia selamanya dan menyimpan harta dalam situasi demikia tidak memberi  manfaat  sama  sekali untuk dirinya. Meskipun demikian orang yang bersikap  dermawan  saat ajal menjelang  tetap mendapat pahala meskipun   pahalanya   lebih renda dari pahala yang diperolehnya jika ia mendermakan hartanya dalam kondisi sehat.

Definisi Kikir
Bagaimana sebenarnya definisi kikir itu dan sejauh  mana seseorang bisa dikategorikan kikir? AI Imam Al Ghazali  mendefinisikan sifat kikir sebagai menahan dari mengeluarkan harta untuk disalurkan ke tujuan yang seharusnya lebih diprioritaskan, disbanding dengan perbuatan untuk menahan harta tersebut. Karena itu orang yang menolak menyerahkan zakat atau nafkah wajibnya  kepada keluarga dikategorikan kikir, sebab menjaga agama dengan berzakat dan mengeluarkan nafkah wajib  harus lebih diprioritaskan daripada menyimpan  harta. Demikian pula orang yang menolak memberikan hartanya dalam  interaksi pergaulan sosial sesama manusia dimana penolakan itu bisa mencoreng nama baiknya, maka hal tersebut bisa dikategorikan kikir. Hal ini karena menjaga nama baik itu harus lebih diprioritaskan daripada menyimpan harta.
Mengatasi Sifat Kikir
1.    Untuk mengatasi sifat kikir kita harus memahami bahwa sifat tercela tersebut muncul akibat rasa cinta kepada harta benda dimana kecintaan kepadanya terjadi karena dua faktor yaitu  1. Nafsu untuk meraih segala keinginan yang tidak mungkin tercapai kecuali dengan memiliki harta benda ditambah  keyakinan berumur panjang. Sebab jika seseorang mengetahui bahwa besok ia akan mati barangkali ia tidak akan kikir untuk mendermakan hartanya.  Karena  kebutuhan yang harus ia penuhi untuk jangka waktu sehari, sebulan atau setahun tidaklah  banyak. Tatkala seseorang tidak memiliki  keyakinan  berumur  panjang maka anak menjadi alasan untuk bersikap kikir. Ia akan menganggap anak sebagai pelanjut eksistensi  dirinya, yang tersebab karenanya ia akan memberikan perhatian berlebihan dengan menyimpan harta demi sang anak.
2.    Mencintai harta benda itu sendiri, bukan karena manfaat yang diperoleh melalui perantaraan harta benda tersebut. Faktor kedua ini akan membuat seseorang yang  sudah  berusia lanjut, tidak memiliki anak, dan mempunyai harta melimpah menolak menyerahkan zakat dan tidak mau berobat ke dokter saat mengalami sakit karena tingginya rasa cinta dan sayangnya kepada harta. la merasa nyaman dan berbahagia saat harta benda melimpah di tangannya dan memiliki kemampuan untuk memperolehnya. Akhirnya ia akan memendam hartanya di dalam tanah, meskipun sadar bahwa ketika mati harta itu akan sia-sia atau diambil orang yang menjadi musuhnya. Namun meski demikian sedikitpun ia tidak berminat untuk makan dari harta tersebut atau menyedekahkannya. Oleh karena itu sifat kikir harus diatasi dengan melakukan sikap yang berlawanan dengan dua faktor kecintaan terhadap harta benda. Nafsu untuk memperoleh  segala  keinginan  harus dilawan  dengan sikap qana’ah atau sikap menerima dengan lapang dada atas sedikitnya harta benda dan dengan sikap sabar. Keya­ kinan berumur panjang harus dilawan dengan banyak mengingat kematian, memperhatikan kematian rekan-rekan yang telah mendahului memandang kesengsaraan mereka dalam menumpuk harta benda dan terlantarnya harta benda tersebut saat mereka tinggalkan. Perhatian lebih kepada anak harus dilawan dengan sebuah keyakinan, bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala  yang telah menciptakan anak juga menciptakan rizqi untuknya. Banyak anak yang ditinggal mati orang tuanya tanpa warisan sedikitpun, kondisi ekonominya lebih baik dari anak yang ditinggal mati orang tuanya dengan warisan melimpah. Juga harus dilawan dengan keyakinan bahwa dengan meninggalkan harta melimpah  untuk anak berarti  ia menghendaki sang anak meraih  kebaikan, namun membiarkan dirinya sendiri  bernasib buruk. Ia juga harus menyadari bahwa jika anaknya termasuk orang yang bertaqwa dan shalih maka Alloh akan memberikan kecukupan untuknya. Sebaliknya jika sang anak termasuk orang yang durhaka maka harta yang ia tinggalkan untuknya akan dijadikan alat untuk mendukung tindakan  maksiat yang  dampak negatifnya  akan  dirasakan oleh orang  tua. Kecintaan   berlebihan kepada harta benda yang menimbulkan sifat kikir juga bisa diatasi dengan satu proses  perenungan  yang mendalam  menyangkut manfaat harta dan untuk apa harta itu diciptakan. Proses ini dapat membuat seseorang hanya menyimpan harta sesuai  kebutuhannya dan mendermakan  sisanya untuk kepentingan akhiratnya. (Sumber   Faidul Qadir dan Ihya'Ulumuddin)  



­


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 19.47.00

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
CB