Menikahi Janda



حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ حَدَّثَنَا سَيَّارٌ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَفَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةٍ فَتَعَجَّلْتُ عَلَى بَعِيرٍ لِي قَطُوفٍ فَلَحِقَنِي رَاكِبٌ مِنْ خَلْفِي فَنَخَسَ بَعِيرِي بِعَنَزَةٍ كَانَتْ مَعَهُ فَانْطَلَقَ بَعِيرِي كَأَجْوَدِ مَا أَنْتَ رَاءٍ مِنْ الْإِبِلِ فَإِذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا يُعْجِلُكَ قُلْتُ كُنْتُ حَدِيثَ عَهْدٍ بِعُرُسٍ قَالَ أَبِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا قُلْتُ ثَيِّبًا قَالَ فَهَلَّا جَارِيَةً تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ قَالَ فَلَمَّا ذَهَبْنَا لِنَدْخُلَ قَالَ أَمْهِلُوا حَتَّى تَدْخُلُوا لَيْلًا أَيْ عِشَاءً لِكَيْ تَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ وَتَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man Telah menceritakan kepada kami Husyaim Telah menceritakan kepada kami Sayyar dari Asy Sya’bi dari Jabir bin Abdulloh ia berkata; Kami pulang dari peperangan bersama Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, maka aku segera memacu untaku yang berjalan pelan. Kemudian seorang pengendara menyusulku dari belakang dan mencucuk Unta milikku dengan tongkat sehingga laju Untaku pun menjadi lamban seperti lambannya Unta yang kantuk. Dan ternyata orang itu adalah Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya: “Apa yang menyebabkanmu tergesa-gesa?” aku menjawab, “Karena aku baru saja memenikah.” Beliau bertanya lagi: “Gadis ataukah janda?” aku menjawab, “Janda.” Beliau bersabda: “Kenapa bukan gadis sehingga kamu dapat bercanda dengannya dan ia pun dapat bermain-main denganmu?” Maka saat kami berangkat, beliau bersabda: “Berjalanlah dengan santai, hinga kalian sampai tepat pada malam hari -yakni Isya`- dan agar keluarga yang masih kusut rambutnya dapat bersisir, dan juga bisa mempersiapkan diri.” {Sahih al-Bukhari 5079 }
Islam sangat menganjurkan pernikahan bagi umatnya yang mampu dan melepaskan diri dari hidup membujang, dalam ajaran Islam juga  menuntun dan memotivasi dalam hal tersebut. Motivasi menikah sorang muslim sangatlah jeals yaitu dalam rangka beribadah kepada Alloh set, namun demikian motivasi motivasi lain dapat menambah tingginya nilah pernikahan itu, misalnya; menyalurkan naluri sex secara halal atau mengharapkankan keturuanan.
Dalam Islampun pertimbangan pertimbangan dalam pernikahan tidaklah dilarang bahkan sangatlah diperlukan. Dalam suatu hadits Rosulullah saw menyatakan bahwa wanita itu dinikahi karena empat perkara; kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan agamanya. Maka pertimbangan agamalah yang akan menyelamatkan pernikahan seorang muslim.
Sayyidina Jabir bin Abdullah ra adalah teladan dalam hal bagiamana beliau mempertimbangkan sebuah pernikahan ini. Sayyidina Jabir paham bahwa dirinya  memasuki usia yang layak untuk  menikah dan ia tahu akan kewajiban menjalankan sunnah berkeluarga. Tetapi pertimbangan yang ia pergunakan dalam memilih calon isteri merupakan suatu langkah matang yang patut direnungkan. Ia memilih seorang janda yang telah berumur. Sebagaimana pertanyaan Rosulullah saw kepadanya, sebab hal ini sesuatu yang tak lazim di saat dalam memilih jodoh seorang gadis lebih banyak keunggulan keunggulannya. Diantaranya adalah secara psikologis akan terjadi keseimbangan misalnya dalam hal bercengkerama satu dengan yang lain. Kegembiraan dalam komunikasi suami isteri memang diperlukan.
Tetapi Sayyidina Jabir ra telah menentukan langkahnya dan Rosulullah saw tak berkomentar atas sikapnya. Sayyidina Jabir mengetahui kelebihan gadis perawan ketimbang janda berumur, tetapi kondisi yang menyertainya tidaklah pada umumnya. Beliau memiliki sejumlah tanggung jawab, memelihara adik adiknya yang masih kecil setelah kematian orang tuanya.
Bagi Sayyidina Jabir ra pernikahan bukanlah untuk kepuasan pribadinya semata. Tetapi ia harus mempertimbangkan faktor lainnya yang di dalamnya ada manusia manusia lain yang terlibat dalam kehidupannya. Jika ia menikah kemudian pernikahannya itu akan menelantarkan adik adiknya yang wanita, hal ini akan menjadi beban kehidupan beliau juga. Bukankah ia akan memiliki banyak perhatikan jika sang isteri yang dipilihnya juga masih memerlukan bimbingan untuk mencapai kedewasaan baik secara individual maupun dalam kehidupan berkeluarga?
Sayyidina Jabir ra adalah tipe manusia yang dalam tindakannya selalu memperhatikan kepentingan orang lain, terutama keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Ia berharap dengan pernikahannya ini semua persoalan bisa tertangani Ia bisa menjalankan sunnah Rasulullah saw juga berharap tetap dapat mengayomi adik adiknya. Kepada isterinya lah ia menaruh harapan untuk menjadi pendidik bagi merekan. Dengan itu ia berharap aktivitas dakwahnya menjadi lancer karena ia tidak banyak menyimpan bebam problema keluarga yang mungjin sekali terjadi jika ia mengawini gadis gadis yang masih muda temaja.
Pertimbangan pertimbangan yang matang dalam pernikahan akan menjadikan pernikahan itu menjadai berkah dan membahagiakan. Sebalikanya, seorang yang menikah tanpa mempertimbankan aspek aspek yang ada dalam dirinya, baik yang berkaitan dengan sifat, keadaan diri maupun tanggung jawab maka pernikahan itu bisa menjelma menjadi bencana yang memusingkan. Problema akan bermunculan dan pada akhirnya akan menghambat aktivitas kehidupannya.
Jika seorang muslim menikah dengan pertimbangan yang baik, maka pernikahannya itu akan menjadi jalan kelaura dair berbagai problema yang dihadapinya. Sebagaimana firman Alloh swt :
(#qßsÅ3Rr&ur 4yJ»tƒF{$# óOä3ZÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur ô`ÏB ö/ä.ÏŠ$t6Ïã öNà6ͬ!$tBÎ)ur 4 bÎ) (#qçRqä3tƒ uä!#ts)èù ãNÎgÏYøóムª!$# `ÏB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ììźur ÒOŠÎ=tæ ÇÌËÈ  
32. dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.




Nama Anda
New Johny WussUpdated: 20.00.00

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
CB