BERAMAL SHALIH DI UJUNG USIA

Oleh: Anshor Abdurrahman

Sebuah email masuk ke akun internalku di kantor, isinya undangan untuk menghadiri acara perpisahan dari Direktur Utama yang memasuki masa pensiun. Tanpa sadar teman kerja yang sedang mengatur suhu proses distilasi di sebelahku  sempat melirik isi email itu. “Kalo pak direktur sih gak masalah mau pensiun, tabungannya sudah banyak cukup buat tujuh turunan!” ujarnya.  Lalu ia melanjutkan bicaranya,”Lalu apa yang kamu siapkan untuk masa pensiun? Sudah daftar asuransi atau tabungan hari tua belum?”.“Selama ini hidup saya ya mengalir saja, saat mendapat gaji langsung dibagi saja zakatnya berapa, bayar sekolah , bayar keperluan sehari hari jika ada sisa ditabung jika tidak yang tidak ada masalah.” Jawabku asal asalan. “Lho kamu sama sekali nggak ada persiapan menghadapi masa tua?” ujarnya sedikit kurang setuju dengan jawabanku tadi. “Minimal sekarang harus mulai berwiraswasta, berwirausaha agar saat masa tua kita nanti tetap ada yang buat hidup.!”kata temanku sedikit gusar sambil melanjutkan pendapatnya.
Obrolan semacam ini bagi sebagian orang adalah kewajaran apalagi mereka yang bekerja jadi pekerja di pabrik atau sektor industri lainnya. Terkadang pula di masa masa usia sekitar 40-an sudah mulai disibukkan mencari wirausaha yang cocok dan dapat diandalkan di masa tua. Seolah ini adalah sebuah kewajaran, akan tetapi di sisi lain, kita melupakan bahwa masa depan yang harus dipersiapkan sejak muda adalah bukan masa pensiun saja bagi seorang pegawai atau masa tua di usia 60 hingga 70 tahun saja, tetapi yang sering dilupakan adalah masa depan yang sebenarnya, yaitu masa depan di akhirat kita.  Kerisauan akan rejeki harusnya tidak ada, sebab dalam Islam konsep rejeki adalah pemberian Alloh, saat Alloh menciptakan mulut kita maka Alloh sudah mempersiapkan rezeki kita.
Mempersiapkan atau memikirkan masa tua dan bagaimana menghadapinya dari sisi penghidupan sehari hari dalam Islam juga sudah diberikan solusinya. Ada beberapa hal yang harus disiapkan tentang hal ini:
1.    Pemahaman yang benar bahwa rizki itu adalah semata mata pemberian Alloh, bukan hasil dari kerja keras kita. Kerja keras adalah bagian dari ikhtiar yang didalamnya akan ada nilai pahala dosa dan keberkahan serta keridhoan Alloh. Sedangkan hasil dari kerja tersebut semata mata adalah pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.
2.    Memandang masa depan tidak berakhir pada masa tua saja tetapi masa di alam kubur dan di akhirat nanti.
3.    Yakinlah apa yang terjadi pada diri kita, Rasulullah sudah memberikan solusinya, sebab beliau membawa Islam sebagai rahmatan lil alamin.
4.    Menerapkan apa dan bagaimana para sahabat Rasululloh, para salafus shalih menatap masa depan atau di masa tua.

Masa tua adalah masa dimana kekuatan kita mulai memudar, saat kepekaan panca indra mulai berkurang, maka kebergantungan yang terbaik adalah kebergantungan kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala. Kebergantungan itu bukan menunggu di masa tua akan tetapi dimulai sejak dini ketika kekuatan kita masih di puncaknya, saat panca indra masih terfungsikan dengan baik, seperti firman Alloh dalam surat Al Baqoroh 152;
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Kebergantungan kita itu adalah menjaga apa yang diberikan Alloh kepada kita berupa panca indra, harta, kesehatan, keluarga atau apapun agar selalu dalam ketaatan kepada Alloh dan digunakan untuk hal hal yang diperintahkan oleh-Nya. Hal lain adalah dengan memperbanyak doa kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala. Sebab doa itu adalah senjata terhebat dari seorang muslim.
Al Allamah Al Muhadits Profesor Doktor Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani dalam kitabnya Abwabul Faroj menuliskan dan memberikan petunjuk bagaimana seorang muslim menghadapi masa tuanya. Beliau menuliskan ragam doa yang diajarkan Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, salah satunya adalah doa saat kita merasa kurang lapang dalam hal rezeki atau mengkhawatirkan kondisi kita di masa depan.
Disebutkan bahwa Rasululloh Sholallahu alaihi wasallam selalu berdoa kepada Alloh untuk dimudahkan rezekinya dan diberi kehidupan bahagia yang menyenangkan.  Beberapa riwayat tentang doa tersebut dituliskan oleh Prof.Dr.Sayyid Alawi Al Maliki diantaranya adalah;
1. Thabrani menyebutkan dalam kitab “Al Ausath” dengan sanad hasan yang bersumber dari Al Haitsami dari Aisyah ra, berkata, “Rasululloh Sholallahu alaihi wasallam sering membaca doa berikut; 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقِكَ عَلَيَّ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّيْ وَانْقِطَاعِ عُمْرِيْ
“Ya Alloh jadikan rejekiku yang cukup di masa usiaku bertambah tua dan hampir datang kematianku.”
2. Al Mustaghfiri menyebutkan dari Ummu Salamah, katanya;”Biasanya Rasululloh saw mengucapkan doa berikut setelah shalat subuh ;
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِزْقًا طَيِّبًا, وَعِلْمًانَافِعًا, وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلً
“Ya Alloh, berikan aku rezeki yang baik, ilmu yang bermanfaat dan amalan yang diterima.”
3.  Al Mustaghfiri menyebutkan dari Qadar bin Malik bahwasanyajika ia keluar dari masjid setelah shalat Jum’at, maka ia berdiri di pintu masjid seraya berdoa sebagai berikut;
اَللَّهُمَّ أَجَّبْتُ دَعْوَتَكَ وَصَلَّيْتُ فَرِيْضَتَكَ وَانْصَرَفْتُ كَمَا أَمَرْتَنِي,
فَرْزُقْنِيْ مِنْ فَضْلِكَ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّازِقِيْنَ
“Ya Alloh, telah aku penuhi panggilan-Mu, telah mengerjakan shalat fardhu-Mu dan aku kini meninggalkan masjid-Mu seperti yang Engkau perintahkan, maka berilah aku rejeki dari karunia-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik baik rejeki.
Dalam kitab Abwabul Faroj yang berarti berbagai jalan keluar Prof.Dr.Muhammad Alwi al Maliki mengumpulkan berbagai doa yang bersumber dari Nabi Sholallahu alaihi wasallam, dari keluarga Nabi Sholallahu alaihi wasallam maupun sahabat Beliau Sholallahu alaihi wasallam, yang kesemuanya menunjukkan bagaimana para sahabat,dan para salafus shalih semuanya merujuk pada yang mulia Rasululloh Sholallahu alaihi wasallam  dalam menghadapi problematika di dunia ini adalah dengan mengutamakan doa.
Maka tetap optimislah menghadapi masa depan di dunia dan di akhirat, kuatkan pegangan kita pada tali iman saat usia menjelang senja, bukan menguatkannya pada harta dunia. Sudah tiba saatnya menjadikan dunia sebagai sisa dari kepentingan akhirat semata, dan bukan lagi menjadikan akhirat sebagai sisa dari kepentingan dunia ketika telah tiba di penghujung usia. Maka menghadapi masa tua adalah dengan memperbanyak doa, dzikrullah,serta berusaha untuk merutinkan amaliah kebaikan sebagai bentuk mencari asuransi dan deposito untuk kehidupan kita di masa depan yang hakiki, dan semoga pula dengan hal tersebut Alloh memberikan pertolongan kepada kita untuk beramal shalih saat ajal menjelang. Wallohu ‘alam


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 19.03.00

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
CB